Jakarta-Indonesia

Setidaknya begitu kesimpulan tersirat yang saya tangkap dari diskusi mingguan Serikat Jurnalis Islam Indonesia (Sajid), pada Jumat, 19/6/2026 di bilangan Tebet, Jakarta Selatan. Acara yang dihadiri puluhan jurnalis dari berbagai media, termasuk Ketua Sajid Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) yang memandu jalannya diskusi, menghadirkan eks wartawan koran Kompas yang juga pengamat Timur Tengah, Musthafa Abdul Rahman, sebagai pembicara.

Musthafa Abdur Rahman menegaskan, dari draft yang beredar, kesepakatan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran membawa sejumlah keleluasaan bagi Iran. Pertama, tidak ada tuntutan perubahan rezim, artinya AS tidak lagi mempermasalahkan siapa pun yang berkuasa di Iran saat ini. Kedua, selat Hormuz kembali dibuka, artinya Iran bisa bernapas lega, aktivitas ekonomi dapat kembali berjalan seperti sedia kala.

Ketiga, negosiasi lanjutan perihal program nuklir berjalan tanpa syarat apa pun yang diminta dari pihak Iran. Keempat, banyak pihak menilai kesepakatan ini lebih memberi keleluasaan kepada Iran, sebaliknya lebih menekan Israel. Kelima, ada paket bantuan rekonstruksi dampak perang buat Iran sebesar US$ 300 miliar yang akan disediakan oleh negara-negara teluk. Iran sendiri sebelumnya menyebut kebutuhan US$400 miliar. Jadi hanya dipotong US$100 miliar saja

Jika kesepakatan yang berdurasi 60 hari (berlaku mulai 18 Juni 2026) ini berjalan lancar, Iran berpotensi lebih terbuka, kuat secara ekonomi, sekaligus meraih peran pentingnya di Timur Tengah tanpa hambatan berarti. Dalam 60 hari ke depan, AS dan Iran akan terus berunding untuk merampungkan kesepakatan final. Jika tidak ada perkembangan yang luar biasa, kesepakatan ini dapat diperpanjang dan terus diperpanjang.

Dengan demikian, Musthafa bilang, pascaperang akan tercipta keseimbangan baru di Timur Tengah. Bakal ada tiga negara yang berpotensi mengambil peran besar, kalau tidak mau disebut dominan: Iran, Israel, dan Turki. Tiga negara tersebut, oleh Musthafa – yang pernah puluhan tahun tinggal di Timur Tengah – diangap memiliki sejumlah keunggulan dibanding negara-negara teluk lainnya. Salah satunya sumber daya manusia yang mereka miliki.


Sinyal Baik Buat Palestina

Pada kesempatan lain, Musthafa menilai, keseimbangan baru pascaperang itu membuat dukungan internasional terhadap berdirinya negara Palestina semakin kuat dan sulit dibendung. Dia percaya, cepat atau lambat Palestina akan memperoleh pengakuan yang lebih luas di tingkat global maupun regional. Apalagi jika ke depan, Iran dan Turki tak hanya memainkan peran besar, tapi juga bersatu dalam semangat Pan-Islamisme, menandai berakhirnya era Pan-Arabisme.

Apabila dalam lima tahun ke depan Iran berhasil memperkuat ekonomi, teknologi, dan kapasitas strategisnya hingga mampu menyaingi Israel dan Turki, maka negara itu berpotensi menjadi faktor penekan bagi Israel untuk menerima implementasi berbagai resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), termasuk Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 242 dan 338 yang menuntut penarikan Israel dari wilayah Arab yang diduduki sejak Perang 1967.

“Kalau Iran sukses membangun ekonominya, teknologinya, dan mampu bersaing dengan Israel dan Turki, maka akan muncul kekuatan baru yang bisa memaksa Israel menerima resolusi-resolusi internasional tersebut,” ujarnya.

Musthafa menambahkan, posisi Israel saat ini semakin tertekan di tingkat internasional. Menurutnya, sejumlah negara Barat yang selama ini dikenal dekat dengan Israel mulai menunjukkan dukungan yang lebih terbuka terhadap Palestina.”Secara internasional Israel sudah terpojok. Dukungan terhadap negara Palestina sangat kuat, terutama di Eropa. Palestina kini telah diakui oleh banyak negara besar dunia. Tinggal menunggu bagaimana pertarungan di tingkat regional setelah perang ini.”

Peran Penting Media Islam

Sebagai wartawan yang kerap melaporkan kejadian-kejadian penting di Timur Tengah langsung dari tempat kejadian perkara, Musthafa juga menyoroti pentingnya media-media dunia Islam memperkuat diri, agar dapat menghasilkan perspektif baru dan menjadi sumber informasi utama bagi masyarakat. Baik di Timur Tengah, maupun di Indonesia pada khususnya.

Dia melihat dominasi media Barat dalam pemberitaan internasional mulai mengalami pergeseran sejak munculnya jaringan televisi Al Jazeera dari Qatar. Sebelum kemunculan Al Jazeera, pemberitaan internasional didominasi media-media Barat seperti CNN dan BBC. Kehadiran Al Jazeera menghadirkan perspektif baru yang mampu menarik perhatian publik dunia, khususnya masyarakat Timur Tengah.

“Hegemoni media Barat terhadap pemberitaan internasional mulai berakhir setelah munculnya Al Jazeera. Pengaruhnya luar biasa dan menjadi sumber informasi utama bagi masyarakat Timur Tengah,” katanya.

Namun Musthafa juga mengakui masih rutin mengikuti berbagai media Israel seperti Haaretz, Jerusalem Post, dan Yedioth Ahronoth. Meskipun secara politik ia mengkritik ideologi Zionisme, memahami media Israel tetap penting untuk mengetahui dinamika politik dan opini publik di negara tersebut.

“Saya membaca media Israel hampir setiap hari. Mereka sangat cepat dan profesional dalam pemberitaan. Kita harus memahami bagaimana mereka berpikir dan bagaimana lanskap politik mereka bekerja,” sebut Musthafa, seraya menambahkan, pemahaman yang mendalam terhadap lawan merupakan bagian penting dalam membangun strategi politik, diplomasi, maupun media yang efektif di kawasan Timur Tengah.

Menunggu Sikap Indonesia

Sambil sesekali menyeruput kopi plus singkong dan jagung rebus, saya menikmati beragam optimisme yang mencuat sepanjang diskusi. Yup, Iran telah lolos ujian berat terkait legitimasinya sebagai kekuatan regional yang mampu bertahan dari serangan militer Amerika Serikat. Ini tentu menjadi poin tinggi. Namun apakah ini juga berati aawal kembalinya masa kejayaan Persia di era Archaemenid, Parthian, dan Sasanian?

Ah, pengaruh kopi tampaknya bikin khayalan saya melayang terlalu jauh. Sekarang abad 21, peta geopolitiknya sudah sangat berubah. Meski kalau Allah mengizinkan, apa pun bisa terjadi.

Barangkali lebih menarik menunggu bagaimana reaksi pemerintah Indonesia mengantisipasi terciptanya keseimbangan baru di Timur Tengah ini. Dinamika di Timur Tengah sangat mempengaruhi harga minyak dunia, hal yang juga menjadi perhatian di APBN kita. Bagaimana reaksi dunia usaha, reaksi ormas-ormas yang selama ini sensitif jika bicara soal Iran, termasuk tentunya kiblat pemberitaan dunia Islam ke depan.

Nah, sepertinya saya butuh tambahan kopi lagi. ( Muhammad Sulhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *